Empat Hal yang Mutlak Diperhatikan Pedestrian

Pedestrian, alias pejalan kaki, juga mesti ekstra waspada saat berlalu-lintas. Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) memasukkan pedestrian ke dalam kelompok yang rentan kecelakaan lalu-lintas jalan. Pada 2015, dari sekitar 1.25 juta korban jiwa akibat kecelakaan di jalan, sekitar 22%-nya adalah para pejalan kaki.

 

 

Di negara kita, pada 2015, diperkirakan angkanya tidak jauh berbeda, yakni 20%-an dari total korban kecelakaan adalah pedestrian. Belasan orang tewas setiap hari akibat kecelakaan lalu-lintas jalan. Artinya, kita para pejalan kaki juga mesti ekstra waspada dan berjalan dengan penuh kehati-hatian. Maklum, bukan mustahil pedestrian pun menempati posisi sebagai subyek kecelakaan.

Kewaspadaan yang perlu dilakukan pedestrian, bagi saya; Pertama: Berjalan sesuai dengan fasilitas yang disediakan. Misal, berjalan di trotoar dan tidak masuk ke badan jalan.

 

Kedua: Menyeberang di area yang sudah disediakan, seperti zebra cross dan jembatan penyeberangan orang.

 

 

Ketiga: Terus fokus dan waspada. Saat berjalan maupun menyeberang jalan tidak dibarengi dengan aktifitas lain, misalnya sambil berponsel.

 

Keempat: Menyeberang dengan hati-hati. Bila tidak ada fasilitas menyeberang, pedestrian mesti super hati-hati. Langkah awal adalah dengan melihat pergerakan lalu-lintas jalan yang ada. Kemudian, memberi isyarat tangan kepada pengguna jalan bahwa ada pedestrian yang hendak atau sedang menyeberang jalan.

 

 

Karena itu, pembenahan infrastruktur, seperti trotoar, adalah hal mutlak yang perlu dilakukan oleh pemerintah sesuai amanat Undang Undang No 22 tahun 2009, tentang Lalu-Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Pihak Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), selaku penanggung jawab jalan nasional, wajib menyediakan trotoar yang nyaman, aman, dan selamat. Serta, tentu saja, ramah bagi semua pedestrian, termasuk para difabel.

 

Begitu juga dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) di tingkat pemerintah daerah. Mereka harus tanggap untuk menyediakan sekaligus memperbaiki trotoar sebagai hak pengguna jalan. Sedangkan pihak terkait, seperti Satpol PP, mutlak menjaga fungsi trotoar agar benar-benar untuk kepentingan pedestrian.

 

 

Di sisi lain, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan Dinas Perhubungan (Dishub) punya andil cukup besar dalam penyedian marka dan rambu jalan. Terkait pedestrian, penyediaan marka jalan, seperti zebra cross, untuk menyeberang perlu disediakan secara tepat. 

 

*Penulis adalah pendiri komunitas Kopdar Pengicau (@kopdarpengicau) dan perintis Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman).

 

Copyright © 2016 otoblitzclassic.com, All Rights Reserved

Finali Mondiali

Otoblitz TV

InstagramFacebookTwitter
restoration

Empat Hal yang Mutlak Diperhatikan Pedestrian

Pedestrian, alias pejalan kaki, juga mesti ekstra waspada saat berlalu-lintas. Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) memasukkan pedestrian ke dalam kelompok yang rentan kecelakaan lalu-lintas jalan. Pada 2015, dari sekitar 1.25 juta korban jiwa akibat kecelakaan di jalan, sekitar 22%-nya adalah para pejalan kaki.

 

 

Di negara kita, pada 2015, diperkirakan angkanya tidak jauh berbeda, yakni 20%-an dari total korban kecelakaan adalah pedestrian. Belasan orang tewas setiap hari akibat kecelakaan lalu-lintas jalan. Artinya, kita para pejalan kaki juga mesti ekstra waspada dan berjalan dengan penuh kehati-hatian. Maklum, bukan mustahil pedestrian pun menempati posisi sebagai subyek kecelakaan.

Kewaspadaan yang perlu dilakukan pedestrian, bagi saya; Pertama: Berjalan sesuai dengan fasilitas yang disediakan. Misal, berjalan di trotoar dan tidak masuk ke badan jalan.

 

Kedua: Menyeberang di area yang sudah disediakan, seperti zebra cross dan jembatan penyeberangan orang.

 

 

Ketiga: Terus fokus dan waspada. Saat berjalan maupun menyeberang jalan tidak dibarengi dengan aktifitas lain, misalnya sambil berponsel.

 

Keempat: Menyeberang dengan hati-hati. Bila tidak ada fasilitas menyeberang, pedestrian mesti super hati-hati. Langkah awal adalah dengan melihat pergerakan lalu-lintas jalan yang ada. Kemudian, memberi isyarat tangan kepada pengguna jalan bahwa ada pedestrian yang hendak atau sedang menyeberang jalan.

 

 

Karena itu, pembenahan infrastruktur, seperti trotoar, adalah hal mutlak yang perlu dilakukan oleh pemerintah sesuai amanat Undang Undang No 22 tahun 2009, tentang Lalu-Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Pihak Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), selaku penanggung jawab jalan nasional, wajib menyediakan trotoar yang nyaman, aman, dan selamat. Serta, tentu saja, ramah bagi semua pedestrian, termasuk para difabel.

 

Begitu juga dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) di tingkat pemerintah daerah. Mereka harus tanggap untuk menyediakan sekaligus memperbaiki trotoar sebagai hak pengguna jalan. Sedangkan pihak terkait, seperti Satpol PP, mutlak menjaga fungsi trotoar agar benar-benar untuk kepentingan pedestrian.

 

 

Di sisi lain, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan Dinas Perhubungan (Dishub) punya andil cukup besar dalam penyedian marka dan rambu jalan. Terkait pedestrian, penyediaan marka jalan, seperti zebra cross, untuk menyeberang perlu disediakan secara tepat. 

 

*Penulis adalah pendiri komunitas Kopdar Pengicau (@kopdarpengicau) dan perintis Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman).

 

15 Tahun Otoblitz