5 Hal Menjengkelkan Saat Berlalu-Lintas

l

Jalan raya adalah milik semua pengguna jalan. Mulai dari pengemudi mobil, pengendara sepeda motor, sepeda, hingga pejalan kaki. Tak boleh ada sekelompok orang yang mengklaim bahwa itu milik mereka; kecuali jalanan yang sudah digariskan untuk pengguna tertentu.

 

Misalnya, jalur busway hanya khusus digunakan untuk busway, jalur cepat untuk kendaraan roda empat non-pikap, jalur lambat untuk angkutan umum dan sepeda motor, jalur motor untuk pemotor, jalur sepeda untuk pengguna sepeda, dan trotoar untuk pejalan kaki. Mengambil jalur lain untuk kendaraan yang tak sesuai dengan penggunaannya, bisa dipastikan dapat membuat kemacetan dan kecelakaan.

Banyak hal yang menyebabkan pengguna jalan jengkel dengan pengguna jalan lainnya. 

Pertama, penggunaan jalur yang bukan haknya. Tak jarang, akibat menyerobot jalur milik orang lain, maka kecelakaan dan kemacetan menjadi pemandangan yang lazim. Trotoar adalah jalanan untuk pejalan kaki, bukan untuk pemotor atau dagangan.

Kedua, hal yang membuat jengkel pengguna jalan adalah penggunaan aksesoris kendaraan yang tak sesuai dengan penempatannya. Yang paling menjengkelkan adalah lampu utama (head lamp). Lampu utama umumnya hanya digunakan untuk malam hari, baik mobil maupun sepeda motor. Namun, khusus untuk pengendara sepeda motor, dianjurkan untuk menyalakan lampu di siang hari. Tujuannya untuk mengurangi kecelakaan lalu-lintas.

Tapi, dari ragam penggunaan lampu ini, yang paling menjengkelkan adalah ketika menggunakan head lamp jarak jauh, dan suka nge-dim. Walau sudah diberi peringatan dengan lampu dim supaya lawan menggunakan lampu jarak dekat, namun kerap saja mereka menggunakan lampu jarak jauh. Orang seperti ini bisa dibilang, tak tahu etika dan sopan santun dalam berkendaraan.

Tak jarang, karena jengkel dengan gaya pengemudi seperti ini, maka beragam benda akan dilemparkan. Jika terjadi seperti ini, yang rugi pastilah pemilik kendaraan yang menggunakan lampu jarak jauh.

Ketiga, masih soal penggunaan aksesoris lampu. Head lamp harusnya menggunakan lampu bewarna kekuningan (bukan terlalu kuning). Warna kuning biasanya digunakan untuk jarak pandang yang terbatas atau jalanan berkabut. Tetapi, banyak pengendara motor dan pengemudi mobil menggunakan lampu kuning di malam hari walau cuaca tidak berkabut.

Selain warna kuning, ada pula yang menggunakan lampu bewarna putih. Penggunaan ini jelas salah kaprah. Dan, bisa dibilang, tidak tahu etika berlalu-lintas. Head lamp tidak cocok menggunakan lampu bewarna putih, karena menyebabkan pihak lawan menjadi silau. Ini sama dengan penggunaan lampu jarak jauh.

Keempat, hal menjengkelkan lainnya adalah penggunaan lampu kuning, putih, dan warna lain selain merah untuk lampu belakang, termasuk lampu rem. Lampu belakang harus menggunakan lampu bewarna merah, bukan kuning, putih, apalagi warna biru. Tak ada aturan berlalu-lintas menggunakan lampu variasi seperti itu. Apalagi lampu rem. Menggunakan lampu rem dengan warna selain merah, bisa menyebabkan kecelakaan, karena pandangan pengemudi atau pengendara di belakang Anda akan merasa silau.

Kelima, pengendara sepeda motor tidak memakai helm. Ini jelas membahayakan dirinya sendiri. Sedekat apa pun jarak tempuh, mestinya helm tetap digunakan. Sebab, kecelakaan tidak hanya terjadi untuk jarak tempuh yang jauh, tapi bisa juga untuk jarak dekat.

Dengan kondisi tidak memakai helm, masih ada pula pengendara yang menggunakan payung. Ini jelas sangat berbahaya. Tidak dibenarkan sama sekali berkendaraan sambil menggunakan payung. 

Copyright © 2016 otoblitzclassic.com, All Rights Reserved

Ferrari - Driven by Emotion

Otoblitz TV

InstagramFacebookTwitter
restoration

5 Hal Menjengkelkan Saat Berlalu-Lintas

l

Jalan raya adalah milik semua pengguna jalan. Mulai dari pengemudi mobil, pengendara sepeda motor, sepeda, hingga pejalan kaki. Tak boleh ada sekelompok orang yang mengklaim bahwa itu milik mereka; kecuali jalanan yang sudah digariskan untuk pengguna tertentu.

 

Misalnya, jalur busway hanya khusus digunakan untuk busway, jalur cepat untuk kendaraan roda empat non-pikap, jalur lambat untuk angkutan umum dan sepeda motor, jalur motor untuk pemotor, jalur sepeda untuk pengguna sepeda, dan trotoar untuk pejalan kaki. Mengambil jalur lain untuk kendaraan yang tak sesuai dengan penggunaannya, bisa dipastikan dapat membuat kemacetan dan kecelakaan.

Banyak hal yang menyebabkan pengguna jalan jengkel dengan pengguna jalan lainnya. 

Pertama, penggunaan jalur yang bukan haknya. Tak jarang, akibat menyerobot jalur milik orang lain, maka kecelakaan dan kemacetan menjadi pemandangan yang lazim. Trotoar adalah jalanan untuk pejalan kaki, bukan untuk pemotor atau dagangan.

Kedua, hal yang membuat jengkel pengguna jalan adalah penggunaan aksesoris kendaraan yang tak sesuai dengan penempatannya. Yang paling menjengkelkan adalah lampu utama (head lamp). Lampu utama umumnya hanya digunakan untuk malam hari, baik mobil maupun sepeda motor. Namun, khusus untuk pengendara sepeda motor, dianjurkan untuk menyalakan lampu di siang hari. Tujuannya untuk mengurangi kecelakaan lalu-lintas.

Tapi, dari ragam penggunaan lampu ini, yang paling menjengkelkan adalah ketika menggunakan head lamp jarak jauh, dan suka nge-dim. Walau sudah diberi peringatan dengan lampu dim supaya lawan menggunakan lampu jarak dekat, namun kerap saja mereka menggunakan lampu jarak jauh. Orang seperti ini bisa dibilang, tak tahu etika dan sopan santun dalam berkendaraan.

Tak jarang, karena jengkel dengan gaya pengemudi seperti ini, maka beragam benda akan dilemparkan. Jika terjadi seperti ini, yang rugi pastilah pemilik kendaraan yang menggunakan lampu jarak jauh.

Ketiga, masih soal penggunaan aksesoris lampu. Head lamp harusnya menggunakan lampu bewarna kekuningan (bukan terlalu kuning). Warna kuning biasanya digunakan untuk jarak pandang yang terbatas atau jalanan berkabut. Tetapi, banyak pengendara motor dan pengemudi mobil menggunakan lampu kuning di malam hari walau cuaca tidak berkabut.

Selain warna kuning, ada pula yang menggunakan lampu bewarna putih. Penggunaan ini jelas salah kaprah. Dan, bisa dibilang, tidak tahu etika berlalu-lintas. Head lamp tidak cocok menggunakan lampu bewarna putih, karena menyebabkan pihak lawan menjadi silau. Ini sama dengan penggunaan lampu jarak jauh.

Keempat, hal menjengkelkan lainnya adalah penggunaan lampu kuning, putih, dan warna lain selain merah untuk lampu belakang, termasuk lampu rem. Lampu belakang harus menggunakan lampu bewarna merah, bukan kuning, putih, apalagi warna biru. Tak ada aturan berlalu-lintas menggunakan lampu variasi seperti itu. Apalagi lampu rem. Menggunakan lampu rem dengan warna selain merah, bisa menyebabkan kecelakaan, karena pandangan pengemudi atau pengendara di belakang Anda akan merasa silau.

Kelima, pengendara sepeda motor tidak memakai helm. Ini jelas membahayakan dirinya sendiri. Sedekat apa pun jarak tempuh, mestinya helm tetap digunakan. Sebab, kecelakaan tidak hanya terjadi untuk jarak tempuh yang jauh, tapi bisa juga untuk jarak dekat.

Dengan kondisi tidak memakai helm, masih ada pula pengendara yang menggunakan payung. Ini jelas sangat berbahaya. Tidak dibenarkan sama sekali berkendaraan sambil menggunakan payung. 

15 Tahun Otoblitz