JAJ: “Tempat Belajar” Para Pecinta Jeep

Berawal dari beberapa orang penyuka American Jeep sering nongkrong bareng, maka, di tahun 1984, terbentuklah Jakarta American Jeep (JAJ), sebuah komunitas pecinta Jeep-jeep Amerika.

Dan, cerita pembentukan JAJ jadi kian unik ketika Eko Putranto, sang Ketua, mengaku waktu itu sebenarnya mereka belum paham betul dengan teknologi 4x4 dan 4x2. "Jeep Amerika itu kan berbagai macam tipe. Nah, di JAJ-lah para anggota saling belajar mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan Jeep," katanya.

Eko Putranto, Ketua Jakarta American Jeep (JAJ)

Jenis dan tipe kendaraan yang dimiliki para anggota JAJ memang terhitung langka. Nyaris berbagai Jeep model klasik bernuansa militer, mereka punya, dan seluruhnya diproduksi di bawah tahun 1950-an. Mulai dari Willys 1942/Ford GPW, Willys MB 1942, hingga Willys M38 1952. Tapi, mereka pun mengoleksi jenis CJ; seperti CJ2, CJ5 (Mambo), juga CJ7.

Di kalangan kolektor, mobil-mobil semacam itu masih menjadi magnet. Apalagi harganya selalu bagus. Willys full original keluaran tahun 1943-1944, umpamanya, nilainya tak pernah kurang dari Rp 400 juta. Bahkan, menurut Eko, "Bahannya saja pernah ditawar sampai Rp 60 juta!"

Hingga hari ini, JAJ telah berhasil merekrut sekitar 270 anggota, yang terdiri dari berbagai kalangan. Ada pelajar, mekanik, pegawai negeri, polisi, bahkan TNI.

Karena dihuni anggota dengan beragam latar belakang yang memiliki bermacam-macam hobi, maka pengurus JAJ juga menyiapkan beberapa divisi agar bisa memfasilitasi para anggotanya dalam melakukan berbagai aktivitas.

"Kegiatan JAJ sangat beragam, dan kami memiliki agenda tetap. Mulai dari pameran, touring setiap November ke Surabaya, jambore, ikut berpartisipasi dalam pameran alutsista di hari-hari besar TNI, offroad, dan tentunya baksos. Yang paling baru, kami memberikan bantuan kepada korban gempa di Aceh," jelas Eko.

Terakhir, pengguna Willys tahun 1943 ini "menyentil" pemerintah agar bersedia melestarikan kepemilikan mobil-mobil klasik bersama klub dan komunitas. Dan, yang paling penting, tambah Eko, "Mempermudah proses pengurusan perpanjangan pajak kendaraan." **Foto-foto: Agus Budi

Copyright © 2016 otoblitzclassic.com, All Rights Reserved

Finali Mondiali

Otoblitz TV

InstagramFacebookTwitter
restoration

JAJ: “Tempat Belajar” Para Pecinta Jeep

Berawal dari beberapa orang penyuka American Jeep sering nongkrong bareng, maka, di tahun 1984, terbentuklah Jakarta American Jeep (JAJ), sebuah komunitas pecinta Jeep-jeep Amerika.

Dan, cerita pembentukan JAJ jadi kian unik ketika Eko Putranto, sang Ketua, mengaku waktu itu sebenarnya mereka belum paham betul dengan teknologi 4x4 dan 4x2. "Jeep Amerika itu kan berbagai macam tipe. Nah, di JAJ-lah para anggota saling belajar mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan Jeep," katanya.

Eko Putranto, Ketua Jakarta American Jeep (JAJ)

Jenis dan tipe kendaraan yang dimiliki para anggota JAJ memang terhitung langka. Nyaris berbagai Jeep model klasik bernuansa militer, mereka punya, dan seluruhnya diproduksi di bawah tahun 1950-an. Mulai dari Willys 1942/Ford GPW, Willys MB 1942, hingga Willys M38 1952. Tapi, mereka pun mengoleksi jenis CJ; seperti CJ2, CJ5 (Mambo), juga CJ7.

Di kalangan kolektor, mobil-mobil semacam itu masih menjadi magnet. Apalagi harganya selalu bagus. Willys full original keluaran tahun 1943-1944, umpamanya, nilainya tak pernah kurang dari Rp 400 juta. Bahkan, menurut Eko, "Bahannya saja pernah ditawar sampai Rp 60 juta!"

Hingga hari ini, JAJ telah berhasil merekrut sekitar 270 anggota, yang terdiri dari berbagai kalangan. Ada pelajar, mekanik, pegawai negeri, polisi, bahkan TNI.

Karena dihuni anggota dengan beragam latar belakang yang memiliki bermacam-macam hobi, maka pengurus JAJ juga menyiapkan beberapa divisi agar bisa memfasilitasi para anggotanya dalam melakukan berbagai aktivitas.

"Kegiatan JAJ sangat beragam, dan kami memiliki agenda tetap. Mulai dari pameran, touring setiap November ke Surabaya, jambore, ikut berpartisipasi dalam pameran alutsista di hari-hari besar TNI, offroad, dan tentunya baksos. Yang paling baru, kami memberikan bantuan kepada korban gempa di Aceh," jelas Eko.

Terakhir, pengguna Willys tahun 1943 ini "menyentil" pemerintah agar bersedia melestarikan kepemilikan mobil-mobil klasik bersama klub dan komunitas. Dan, yang paling penting, tambah Eko, "Mempermudah proses pengurusan perpanjangan pajak kendaraan." **Foto-foto: Agus Budi

15 Tahun Otoblitz