Yohannes Nangoi: “Siap Menjadi Partner Positif.”

Memimpin asosiasi industri otomotif, yang memiliki latar belakang beragam, memang berbeda dengan mengendalikan sebuah pabrikan otomotif.

Yohannes Nangoi, yang mengomandani pabrikan spesialis kendaraan niaga selama belasan tahun, PT  Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI), pun mengakui hal itu saat dipercaya menjadi  nakhoda Gaikindo yang baru. Ia menggantikan Sudirman MR, yang telah memimpin Gaikindo dua  periode.

Saat ditemui di kantor pusat  IAMI, Ketua Gaikindo untuk masa bakti 2016-2019 ini banyak berbagi cerita tentang industri otomotif Indonesia. Berikut petikan bincang-bincangnya: 

 

Bisakah Anda jelaskan visi dan misi Gaikindo periode 2016-2019?

Sederhana: Kami ingin menjadi partner aktif bagi pemerintah untuk membuat peraturan-peraturan yang berpihak kepada industri dalam negeri agar lebih maju. Kami juga ingin memberikan masukan positif kepada semua prinsipal  anggota Gaikindo,  sehingga mereka  bisa melihat Indonesia sebagai negara dengan iklim investasi yang sangat baik,  sehat, dan menguntungkan.

Kalau  timbal-baliknya ada, otomatis industri otomotif Indonesia akan naik. Kalau industri otomotif naik, kita menjadi basis ekspor; dan itu berarti devisa buat negara, pegawai  bertambah, juga  harga produk otomotif  bisa ditekan karena volume makin besar.

Jadi, jangan  dilihat dari sisi negatif. Coba lihat sisi positifnya, berapa banyak tenaga kerja yang bisa diserap? Saat ini ada lebih satu juta pegawai  di sektor otomotif.  Kita juga membayar pajak di atas Rp 100 triliun setiap tahun. Itu luar biasa. Kemudian  prestise bagi negara, punya industri otomotif yang alih teknologinya  berjalan dengan baik.

Jangan dilupakan pula bahwa  GIIAS (Gaikindo Indonesia International Auto Show) ada dalam skedul OICA (Organisation Internationale des Constructeurs d'Automobiles, atau International Organization of Motor Vehicle Manufacturers).  Jadi, GIIAS yang setiap tahun kita adakan adalah  salah satu  rangkaian pameran otomotif dunia. Bahkan, dalam rapat OICA di Moskow bulan Oktober nanti, kami akan mempresentasikan kepada seluruh anggota bahwa Indonesia akan menjadi tuan rumah OICA International 2017.

Gaikindo  juga masuk dalam Federasi Otomotif Indonesia. Khusus untuk ASEAN Automotive Federation (AAF), tahun depan kepemimpinannya akan berada di Indonesia. 

 

Tapi, bagaimana dengan kondisi bisnis APM di Indonesia saat ini?

Anggota kami saat ini lebih dari 40. Memang ada satu yang mundur, tapi itu tidak bisa dihindari. Dalam kondisi  berat seperti sekarang, yang lemah akan  mengalami  dampak.  Dan, kami tidak bisa melakukan apa-apa. Sebagai asosiasi, kami tidak bisa membantu. 

Kompetisi akan berlangsung  terus di lapangan, terutama bagi mereka yang mengimpor. Kalau mengimpor, maka  harganya  akan jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan produk lokal.

Tapi, saya yakin, kalau nanti industrinya berkembang lagi, akan banyak yang masuk lagi. Itu hal yang normal. Contohnya, dalam kondisi  berat pun, beberapa investasi asing mulai  masuk. Beberapa mobil Cina mulai membangun pabrik di Indonesia dan berbisnis  dengan  pemikiran yang sangat positif mengenai Indonesia.

 

Bagaimana dengan ekspor dan impor?

 

Memang  lebih stabil bagi mereka yang punya dua basis atau dua pijakan: Satu untuk pasar domestik, dan satu lagi untuk pasar ekspor. Kalau pasar domestik turun, misalnya, masih ada pasar ekspor. Kalau pasar ekspor turun, pasar domestiknya masih kuat. Tapi, ketika yang hanya untuk  domestik mengalami perlambatan, otomatis mereka harus  melakukan pengetatan ikat pinggang.

Tapi, beginilah. Jangan yang cuma susah setahun-dua tahun lalu diributkan; sedangkan pada saat berkembang, mereka diam-diam semua. Ini kan fenomena  biasa dalam  bisnis.

Thailand, dua tahun yang lalu, volume domestiknya sama. Tapi, sekarang mereka juga lagi turun, bahkan tahun ini diperkirakan hanya sekitar 750.000 unit.  Sementara Indonesia masih 1.050.000 unit.

Sebetulnya Thailand turun lebih drastis. Hanya saja ekspor mereka 1 juta unit, sedangkan Indonesia ekspornya 200.000 unit. Ini yang harus kita genjot.

Dua tahun yang lalu pasar domestik Thailand 1,2 juta unit dan ekspornya 750.000 unit. Total produksi mereka 2 juta unit. Sekarang domestiknya 750.000 unit dan ekspornya 1 juta unit. Jadi, turun 250.000 unit. Masih kecil. Nah, Indonesia terasa rendah karena ekspor kita hanya 200.000 unit.

 

Lalu, siapkah Indonesia sebagai basis ekspor mobil?

Kemungkinannya sangat besar. Kenapa? Negara-negara prinsipal melihat pasar domestik Indonesia begitu GDP-nya (Gross Domestic Product) menyentuh satu titik tertentu, dimana kestabilan pemerintah membaik seperti saat ini, pasarnya luar biasa. Bandingkan dengan Thailand. Kalau kita semaju Thailand, dengan penduduk empat kali lipat dari mereka, seharusnya penjualan mobil di Indonesia sekitar empat juta. Empat juta! Produsen mana yang tidak ngiler?

Mereka mau membuat  pabrik di Indonesia karena pasar domestiknya besar. Kalau pabrik mereka di Indonesia sudah cukup baik, pasti akan dimanfaatkan untuk ekspor. Buktinya sekarang kita juga  ekspor banyak. Contohnya  Daihatsu. Luar biasa sekali mereka. Makanya, aturan mainnya harus kita jelaskan.

Sebetulnya visi dan misi Gaikindo itu gampang saja, membuat Indonesia menjadi seperti Detroit-nya ASEAN. Coba lihat, Indonesia punya pasar domestik yang kuat. Tidak mungkin  pabrik besar dari  Jepang terus bilang: “Oh, saya mau bikin pabrik di Australia.” Kok di Australia? Penduduknya cuma 20 juta orang, lalu seberapa besar pasarnya? Kalau 10% orang beli mobil, cuma dapat berapa? Dua juta orang, terus dibagi sekian puluh tahun, cuma dapat berapa? Pasarnya kecil sekali di sana.

Tapi, kalau Indonesia? 250 juta orang (penduduknya). Hampir 13 kali lipat Australia. Jadi, pantas dibikin pabrik di sini, sehingga kita punya GDP naik terus.

 

Bagaimana dengan perimbangan ekspor dan impor?

Itu harus kita bereskan. Industri komponen harus kita bereskan, termasuk peraturan-peraturan pemerintah. Contoh kendaraan SUV, MPV. Bea masuknya kan sudah turun, tinggal 10%. Padahal begitu dibuat jadi sedan, pajaknya naik 30%.

Nah, kendaraan seperti ini di dunia pasarnya tidak begitu besar. Yang besar itu sedan kecil. Yang untung Thailand, karena pasar sedunia itu pada sedan kecil. Sedangkan Indonesia tidak pro pada sedan kecil. Akibatnya, domestiknya kecil.

Beberapa kali kita sempat diskusi. Pemerintah menyatakan, kita ingin mendapatkan pajak. Lho,  memang dapat pajak besar 30%, tapi kan cuma untuk 10 unit mobil. Mending kita dapat 10% untuk 1.000 mobil, kan?

Itu yang ingin kita coba beri masukan. Kita harus memilih. Indonesia harus difokuskan untuk insentif dan segala macam, sehingga produksinya bisa berkembang.

Jadi, kalau pasar di Indonesia berkembang, pasar dunianya juga besar. Otomatis ekspor dari Indonesia akan  jalan. Tapi, kalau pasar domestiknya tidak berkembang, prinsipal bilang: “Ngapain saya bikin pabrik di Indonesia? Impor saja dari Thailand.” Lha, Thailand-nya bilang: “Waduh, oke, terima kasih!” Lalu mereka ekspor ke mana-mana.

 

Sebenarnya hubungan pemerintah dan industri otomotif seperti apa sih?

Pemerintah kan departemennya banyak. Departemen Lingkungan Hidup sudah ingin menjalankan. Tapi, Departemen ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) harus menyiapkan bahan bakar Euro 4. Kan tidak gampang juga.

Nah, ini harus selaras dulu semuanya. Dan, terus terang, ini di luar kuasa kami. Bahkan, sekarang ada isu, pemerintah akan menjalankan B20 (Bio-diesel 20). Terus-terang kami masih waswas, karena tidak semua kendaraan siap. Di dunia ini paling tinggi B7. Dengan B20, kita belum tahu emisinya jadi berapa. Apakah tetap bisa Euro 2 atau kembali ke Euro 0, kami belum tahu. Kalau ada kesempatan, kami ingin juga curhat ke Pak Jokowi.

 

Bagaimana dengan peran industri otomotif dan infrastruktur?

Kebijakan pemerintah soal infrastruktur memang positif sekali. Saya kasih contoh. Pabrik Honda, Toyota, Isuzu, Daihatsu, semuanya main di Jakarta. Begitu berat Jakarta menerima beban ini.

Tapi, masalahnya, kami juga ingin ada pemasok komponen. Nah, kita minta bantuan pemerintah, karena di negara sebesar Indonesia, pemasok komponen otomotif seakarang baru sekitar 500. Padahal di Thailand, pabrik komponen ada 2.000. Kita masih jauh tertinggal. Buat apa kita bikin basis produksi kalau komponennya semua impor?

Komponen ini akhirnya seperti ada gula ada semut. Karena semua pabrik ada di Jakarta, komponennya juga ada di sini. Idealnya kan komponen atau pabriknya bisa disebar di luar. Tapi, kalau infrastrukturnya belum siap, bahaya sekali. Contoh, begitu saya punya pabrik komponen atau supplier di kota lain, kemudian  jalan terputus, mati kita.

Tahun lalu atau dua tahun lalu pernah terjadi jembatan di Jawa Tengah ambruk. Nangis kita, karena tidak datang barangnya, dan terhambat semuanya. Supplier kami waktu itu bikin jok dari salah satu pabrik di Semarang. Nah, karena (barangnya) tidak datang, mobilnya tidak jadi.

Ini soal infrastruktur. Jadi, begitu pemerintah fokus ke sana, bagus sekali, positif sekali. Pertumbuhan bukan hanya tersentralisir di Jakarta, tapi juga menyebar, sehingga jauh lebih baik.    

 

Bagaimana pula dengan penjualan kendaraan saat ini?

Yang lebih bermain adalah kendaraan kecil. LCGC (Low Cost Green Car) yang lebih banyak, dan tumbuhnya lebih besar. Kalau kendaraan komersial, dibanding tahun lalu, turunnya cukup drastis, di atas 20%. Ini tidak bisa dihindari.

Tapi, kalau nanti kondisinya membaik, otomatis mereka akan lebih duluan naik. Itu pernah kita alami bertahun-tahun, dan begitu terus. 

 

Sejauh mana kontribusi Gaikindo terhadap pemerintah? 

 

Kami menyadari keterbatasan kami. Sebagai asosiasi gabungan industri kendaraan bermotor Indonesia, jangkauan pemikiran kami memang tidak sampai seperti pemerintah yang pasti lebih matang. Ada yang mengatur soal moneter, suku bunga, dan segala macam. Sementara kami cuma pemain di lapangan.

Kadang-kadang masukan kami sifatnya teknis, yang benar-benar terjadi di lapangan seperti apa. Tapi, kalau pemerintah bisa menerima masukan ini, dan bukan hanya dari asosiasi mobil, tentu akan sangat bermanfaat. Misalnya, mengenai acuan suku bunga dan segala macam.

 

Komentar Anda tentang emisi dan lingkungan hidup?

Kontrol emisi itu sangat penting. Saat ini tidak terlihat. Orang cuma tanya apa sih itu Euro 2, Euro 4? Tapi, sebetulnya dampaknya pada kesehatan luar biasa.

Yang namanya polusi itu, kalau tinggi, dampaknya akan terasa 10 tahun kemudian. Kondisi kesehatan kita akan tidak baik.

Saya rasa, emisi gas buang yang baik sudah diperlukan untuk negara seperti Indonesia. Kalau dibandingkan dengan negara-negara sekitar, kita masih ketinggalan.     

 

Bagaimana dengan daya beli konsumen?

Menurut saya, penurunan suku bunga dan tenor panjang kadang-kadang bisa menaikkan penjualan. Itu dari sisi positif. Tapi, dari sisi negatif, berbahaya sekali. Karena kalau ada konsumen  yang  belum mampu membeli mobil tapi dipaksakan, bisa jadi  bumerang.

Saat ini kami fokus membuat kendaraan-kendaraan yang lebih kompetitif, yang lebih murah lagi. Tadinya kelas mobilnya begini, lalu kami buat yang kelasnya lebih rendah dan harganya lebih murah. Nah, sekarang orang menuntut harga yang murah tapi kualitasnya tidak boleh turun.

Ini yang membuat kita putar otak terus dan global sourcing untuk bisa membantu. Misalnya, merek A yang cukup besar bisa melakukan global sourcing untuk  keperluan komponen dari negara lain, sehingga  bisa membuat kendaraan yang kualitasnya tidak turun terlalu banyak atau variannya tidak terlalu banyak, tapi harganya bisa turun banyak. Contohnya LCGC, yang saat ini justru penjualannya paling besar karena pertumbuhan pasarnya paling pesat. Sementara mobil premium kelas atas masih di situ, yang di bawah justru cepat sekali.

 

Komentar Anda tentang maraknya pameran mobil saat ini?

Kalau saya prinsipnya selalu happy. Ada 1.000 pameran mobil, bagus! Karena makin banyak orang beli mobil, industri mobil makin maju. 

 

 

**Foto-foto: Motor Trend Indonesia, Dok. Istimewa.

 

Copyright © 2016 otoblitzclassic.com, All Rights Reserved

Finali Mondiali

Otoblitz TV

InstagramFacebookTwitter
restoration

Yohannes Nangoi: “Siap Menjadi Partner Positif.”

Memimpin asosiasi industri otomotif, yang memiliki latar belakang beragam, memang berbeda dengan mengendalikan sebuah pabrikan otomotif.

Yohannes Nangoi, yang mengomandani pabrikan spesialis kendaraan niaga selama belasan tahun, PT  Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI), pun mengakui hal itu saat dipercaya menjadi  nakhoda Gaikindo yang baru. Ia menggantikan Sudirman MR, yang telah memimpin Gaikindo dua  periode.

Saat ditemui di kantor pusat  IAMI, Ketua Gaikindo untuk masa bakti 2016-2019 ini banyak berbagi cerita tentang industri otomotif Indonesia. Berikut petikan bincang-bincangnya: 

 

Bisakah Anda jelaskan visi dan misi Gaikindo periode 2016-2019?

Sederhana: Kami ingin menjadi partner aktif bagi pemerintah untuk membuat peraturan-peraturan yang berpihak kepada industri dalam negeri agar lebih maju. Kami juga ingin memberikan masukan positif kepada semua prinsipal  anggota Gaikindo,  sehingga mereka  bisa melihat Indonesia sebagai negara dengan iklim investasi yang sangat baik,  sehat, dan menguntungkan.

Kalau  timbal-baliknya ada, otomatis industri otomotif Indonesia akan naik. Kalau industri otomotif naik, kita menjadi basis ekspor; dan itu berarti devisa buat negara, pegawai  bertambah, juga  harga produk otomotif  bisa ditekan karena volume makin besar.

Jadi, jangan  dilihat dari sisi negatif. Coba lihat sisi positifnya, berapa banyak tenaga kerja yang bisa diserap? Saat ini ada lebih satu juta pegawai  di sektor otomotif.  Kita juga membayar pajak di atas Rp 100 triliun setiap tahun. Itu luar biasa. Kemudian  prestise bagi negara, punya industri otomotif yang alih teknologinya  berjalan dengan baik.

Jangan dilupakan pula bahwa  GIIAS (Gaikindo Indonesia International Auto Show) ada dalam skedul OICA (Organisation Internationale des Constructeurs d'Automobiles, atau International Organization of Motor Vehicle Manufacturers).  Jadi, GIIAS yang setiap tahun kita adakan adalah  salah satu  rangkaian pameran otomotif dunia. Bahkan, dalam rapat OICA di Moskow bulan Oktober nanti, kami akan mempresentasikan kepada seluruh anggota bahwa Indonesia akan menjadi tuan rumah OICA International 2017.

Gaikindo  juga masuk dalam Federasi Otomotif Indonesia. Khusus untuk ASEAN Automotive Federation (AAF), tahun depan kepemimpinannya akan berada di Indonesia. 

 

Tapi, bagaimana dengan kondisi bisnis APM di Indonesia saat ini?

Anggota kami saat ini lebih dari 40. Memang ada satu yang mundur, tapi itu tidak bisa dihindari. Dalam kondisi  berat seperti sekarang, yang lemah akan  mengalami  dampak.  Dan, kami tidak bisa melakukan apa-apa. Sebagai asosiasi, kami tidak bisa membantu. 

Kompetisi akan berlangsung  terus di lapangan, terutama bagi mereka yang mengimpor. Kalau mengimpor, maka  harganya  akan jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan produk lokal.

Tapi, saya yakin, kalau nanti industrinya berkembang lagi, akan banyak yang masuk lagi. Itu hal yang normal. Contohnya, dalam kondisi  berat pun, beberapa investasi asing mulai  masuk. Beberapa mobil Cina mulai membangun pabrik di Indonesia dan berbisnis  dengan  pemikiran yang sangat positif mengenai Indonesia.

 

Bagaimana dengan ekspor dan impor?

 

Memang  lebih stabil bagi mereka yang punya dua basis atau dua pijakan: Satu untuk pasar domestik, dan satu lagi untuk pasar ekspor. Kalau pasar domestik turun, misalnya, masih ada pasar ekspor. Kalau pasar ekspor turun, pasar domestiknya masih kuat. Tapi, ketika yang hanya untuk  domestik mengalami perlambatan, otomatis mereka harus  melakukan pengetatan ikat pinggang.

Tapi, beginilah. Jangan yang cuma susah setahun-dua tahun lalu diributkan; sedangkan pada saat berkembang, mereka diam-diam semua. Ini kan fenomena  biasa dalam  bisnis.

Thailand, dua tahun yang lalu, volume domestiknya sama. Tapi, sekarang mereka juga lagi turun, bahkan tahun ini diperkirakan hanya sekitar 750.000 unit.  Sementara Indonesia masih 1.050.000 unit.

Sebetulnya Thailand turun lebih drastis. Hanya saja ekspor mereka 1 juta unit, sedangkan Indonesia ekspornya 200.000 unit. Ini yang harus kita genjot.

Dua tahun yang lalu pasar domestik Thailand 1,2 juta unit dan ekspornya 750.000 unit. Total produksi mereka 2 juta unit. Sekarang domestiknya 750.000 unit dan ekspornya 1 juta unit. Jadi, turun 250.000 unit. Masih kecil. Nah, Indonesia terasa rendah karena ekspor kita hanya 200.000 unit.

 

Lalu, siapkah Indonesia sebagai basis ekspor mobil?

Kemungkinannya sangat besar. Kenapa? Negara-negara prinsipal melihat pasar domestik Indonesia begitu GDP-nya (Gross Domestic Product) menyentuh satu titik tertentu, dimana kestabilan pemerintah membaik seperti saat ini, pasarnya luar biasa. Bandingkan dengan Thailand. Kalau kita semaju Thailand, dengan penduduk empat kali lipat dari mereka, seharusnya penjualan mobil di Indonesia sekitar empat juta. Empat juta! Produsen mana yang tidak ngiler?

Mereka mau membuat  pabrik di Indonesia karena pasar domestiknya besar. Kalau pabrik mereka di Indonesia sudah cukup baik, pasti akan dimanfaatkan untuk ekspor. Buktinya sekarang kita juga  ekspor banyak. Contohnya  Daihatsu. Luar biasa sekali mereka. Makanya, aturan mainnya harus kita jelaskan.

Sebetulnya visi dan misi Gaikindo itu gampang saja, membuat Indonesia menjadi seperti Detroit-nya ASEAN. Coba lihat, Indonesia punya pasar domestik yang kuat. Tidak mungkin  pabrik besar dari  Jepang terus bilang: “Oh, saya mau bikin pabrik di Australia.” Kok di Australia? Penduduknya cuma 20 juta orang, lalu seberapa besar pasarnya? Kalau 10% orang beli mobil, cuma dapat berapa? Dua juta orang, terus dibagi sekian puluh tahun, cuma dapat berapa? Pasarnya kecil sekali di sana.

Tapi, kalau Indonesia? 250 juta orang (penduduknya). Hampir 13 kali lipat Australia. Jadi, pantas dibikin pabrik di sini, sehingga kita punya GDP naik terus.

 

Bagaimana dengan perimbangan ekspor dan impor?

Itu harus kita bereskan. Industri komponen harus kita bereskan, termasuk peraturan-peraturan pemerintah. Contoh kendaraan SUV, MPV. Bea masuknya kan sudah turun, tinggal 10%. Padahal begitu dibuat jadi sedan, pajaknya naik 30%.

Nah, kendaraan seperti ini di dunia pasarnya tidak begitu besar. Yang besar itu sedan kecil. Yang untung Thailand, karena pasar sedunia itu pada sedan kecil. Sedangkan Indonesia tidak pro pada sedan kecil. Akibatnya, domestiknya kecil.

Beberapa kali kita sempat diskusi. Pemerintah menyatakan, kita ingin mendapatkan pajak. Lho,  memang dapat pajak besar 30%, tapi kan cuma untuk 10 unit mobil. Mending kita dapat 10% untuk 1.000 mobil, kan?

Itu yang ingin kita coba beri masukan. Kita harus memilih. Indonesia harus difokuskan untuk insentif dan segala macam, sehingga produksinya bisa berkembang.

Jadi, kalau pasar di Indonesia berkembang, pasar dunianya juga besar. Otomatis ekspor dari Indonesia akan  jalan. Tapi, kalau pasar domestiknya tidak berkembang, prinsipal bilang: “Ngapain saya bikin pabrik di Indonesia? Impor saja dari Thailand.” Lha, Thailand-nya bilang: “Waduh, oke, terima kasih!” Lalu mereka ekspor ke mana-mana.

 

Sebenarnya hubungan pemerintah dan industri otomotif seperti apa sih?

Pemerintah kan departemennya banyak. Departemen Lingkungan Hidup sudah ingin menjalankan. Tapi, Departemen ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) harus menyiapkan bahan bakar Euro 4. Kan tidak gampang juga.

Nah, ini harus selaras dulu semuanya. Dan, terus terang, ini di luar kuasa kami. Bahkan, sekarang ada isu, pemerintah akan menjalankan B20 (Bio-diesel 20). Terus-terang kami masih waswas, karena tidak semua kendaraan siap. Di dunia ini paling tinggi B7. Dengan B20, kita belum tahu emisinya jadi berapa. Apakah tetap bisa Euro 2 atau kembali ke Euro 0, kami belum tahu. Kalau ada kesempatan, kami ingin juga curhat ke Pak Jokowi.

 

Bagaimana dengan peran industri otomotif dan infrastruktur?

Kebijakan pemerintah soal infrastruktur memang positif sekali. Saya kasih contoh. Pabrik Honda, Toyota, Isuzu, Daihatsu, semuanya main di Jakarta. Begitu berat Jakarta menerima beban ini.

Tapi, masalahnya, kami juga ingin ada pemasok komponen. Nah, kita minta bantuan pemerintah, karena di negara sebesar Indonesia, pemasok komponen otomotif seakarang baru sekitar 500. Padahal di Thailand, pabrik komponen ada 2.000. Kita masih jauh tertinggal. Buat apa kita bikin basis produksi kalau komponennya semua impor?

Komponen ini akhirnya seperti ada gula ada semut. Karena semua pabrik ada di Jakarta, komponennya juga ada di sini. Idealnya kan komponen atau pabriknya bisa disebar di luar. Tapi, kalau infrastrukturnya belum siap, bahaya sekali. Contoh, begitu saya punya pabrik komponen atau supplier di kota lain, kemudian  jalan terputus, mati kita.

Tahun lalu atau dua tahun lalu pernah terjadi jembatan di Jawa Tengah ambruk. Nangis kita, karena tidak datang barangnya, dan terhambat semuanya. Supplier kami waktu itu bikin jok dari salah satu pabrik di Semarang. Nah, karena (barangnya) tidak datang, mobilnya tidak jadi.

Ini soal infrastruktur. Jadi, begitu pemerintah fokus ke sana, bagus sekali, positif sekali. Pertumbuhan bukan hanya tersentralisir di Jakarta, tapi juga menyebar, sehingga jauh lebih baik.    

 

Bagaimana pula dengan penjualan kendaraan saat ini?

Yang lebih bermain adalah kendaraan kecil. LCGC (Low Cost Green Car) yang lebih banyak, dan tumbuhnya lebih besar. Kalau kendaraan komersial, dibanding tahun lalu, turunnya cukup drastis, di atas 20%. Ini tidak bisa dihindari.

Tapi, kalau nanti kondisinya membaik, otomatis mereka akan lebih duluan naik. Itu pernah kita alami bertahun-tahun, dan begitu terus. 

 

Sejauh mana kontribusi Gaikindo terhadap pemerintah? 

 

Kami menyadari keterbatasan kami. Sebagai asosiasi gabungan industri kendaraan bermotor Indonesia, jangkauan pemikiran kami memang tidak sampai seperti pemerintah yang pasti lebih matang. Ada yang mengatur soal moneter, suku bunga, dan segala macam. Sementara kami cuma pemain di lapangan.

Kadang-kadang masukan kami sifatnya teknis, yang benar-benar terjadi di lapangan seperti apa. Tapi, kalau pemerintah bisa menerima masukan ini, dan bukan hanya dari asosiasi mobil, tentu akan sangat bermanfaat. Misalnya, mengenai acuan suku bunga dan segala macam.

 

Komentar Anda tentang emisi dan lingkungan hidup?

Kontrol emisi itu sangat penting. Saat ini tidak terlihat. Orang cuma tanya apa sih itu Euro 2, Euro 4? Tapi, sebetulnya dampaknya pada kesehatan luar biasa.

Yang namanya polusi itu, kalau tinggi, dampaknya akan terasa 10 tahun kemudian. Kondisi kesehatan kita akan tidak baik.

Saya rasa, emisi gas buang yang baik sudah diperlukan untuk negara seperti Indonesia. Kalau dibandingkan dengan negara-negara sekitar, kita masih ketinggalan.     

 

Bagaimana dengan daya beli konsumen?

Menurut saya, penurunan suku bunga dan tenor panjang kadang-kadang bisa menaikkan penjualan. Itu dari sisi positif. Tapi, dari sisi negatif, berbahaya sekali. Karena kalau ada konsumen  yang  belum mampu membeli mobil tapi dipaksakan, bisa jadi  bumerang.

Saat ini kami fokus membuat kendaraan-kendaraan yang lebih kompetitif, yang lebih murah lagi. Tadinya kelas mobilnya begini, lalu kami buat yang kelasnya lebih rendah dan harganya lebih murah. Nah, sekarang orang menuntut harga yang murah tapi kualitasnya tidak boleh turun.

Ini yang membuat kita putar otak terus dan global sourcing untuk bisa membantu. Misalnya, merek A yang cukup besar bisa melakukan global sourcing untuk  keperluan komponen dari negara lain, sehingga  bisa membuat kendaraan yang kualitasnya tidak turun terlalu banyak atau variannya tidak terlalu banyak, tapi harganya bisa turun banyak. Contohnya LCGC, yang saat ini justru penjualannya paling besar karena pertumbuhan pasarnya paling pesat. Sementara mobil premium kelas atas masih di situ, yang di bawah justru cepat sekali.

 

Komentar Anda tentang maraknya pameran mobil saat ini?

Kalau saya prinsipnya selalu happy. Ada 1.000 pameran mobil, bagus! Karena makin banyak orang beli mobil, industri mobil makin maju. 

 

 

**Foto-foto: Motor Trend Indonesia, Dok. Istimewa.

 

15 Tahun Otoblitz